CIRI PEMIMPIN YANG BERAKHLAKUL KHARIMAH

CIRI PEMIMPIN YANG BERAKHLAKUL KHARIMAH

Pendahuluan.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah dimuka bumi,dimana manusia telah diberi petunjuk melalui Qur’an dan Sunnah.
Petunjuk tersebut sangat jelas tentang mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.
Tetapi realitanya ternyata manusia saling “memakan satu sama lain” dimana pihak yang kuat menguasai pihak yang lemah.
Hal ini tebukti dengan semakin dekatnya pemilu 9 April 2009, dimana satu sama lain saling menjatuhkan, sudah tidak beretika sama sekali, sehingga membingungkan masyarakat.
Rakyat sebagai posisi pihak yang lemah sangat tidak berdaya disebabkan kalah segala-galanya, baik dibidang materi, pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya.
Seharusnya seorang pemimpin yang merasa dirinya kuat membela kepentingan pihak yang lemah.Pihak yang lemah (duafa) dibimbing,dibina diberi perlindungan sehingga benar-benar menjadi manusia yang bermanfaat, sehingga tidak menjadi beban bagi yang lain.
Ciri-ciri pemimpin yang berakhlakul kharimah.
Memang tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang berakhlakul kharimah.
Ada empat ciri pemimpin yang berakhlakul kharimah.
Empat peran ini sangat berkait dengan upaya dalam rangka mengilhami orang lain agar bisa mengemukakan suara hati nuraninya,menemukan panggilan hidupnya atau visinya.
Ciri pemimpin yang berakhlakul kharimah sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan.
Empat ciri tersebut adalah
a. Peran panutan
Peran untuk menjadi panutan,segala ucapannya,perilakunya menjadi keteladanan atau uswah-hasanah bagi orang lain.Dimana kehadiran manusia yang berakhlakul kharimah menjadi penyejuk,sehingga kehadirannya sangat dinanti-nantikan.Peran panutan ini tidak identik dengan pengkultusan. Peran pengkultusan bersifat membabi buta tidak mengindahkan kaidah-kaidah atau norma-norma agama.
Covey berpendapat peran panutan ini sebagai “kemudi kecil” (trim-tab) yang mampu untuk menggerakkan kemudi besar.Peran ini sangat penting dalam rangka membangun kepercayaan anggota.
b. Peran perintis jalan
Peran kedua adalah peran untuk perintis jalan (pathfinding) dengan cara mengarahkan hidup dengan visi.Perwujudan peran ini dimulai dari diri sendiri kemudian mengilhami orang lain untuk melakukan hal yang sama.Peran perintisan sangat penting artinya karena mampu untuk menciptakan visi dan nilai-nilai bersama sebagai arah yang menunjukkan jalan kemana seorang pemimpin (pengurus) bersama anggota untuk bergerak.Persis seperti yang dicontohkan Rasullulah s.a.w. dalam membawa ummatnya kedalam ajaran kebenaran yang hakiki.
c. Peran penyelaras (aligning)
Artinya dengan nilai disiplin yang tinggi pemimpin atau pengurus bisa membangun sekaligus memelihara sistem agar tepat mengarah kepada tujuan koperasi itu sendiri sebagai organisasi ekonomi yang mengutamakan kepentingan para anggotanya.
d. Peran pemberdayaan (empowering)
Bagaimana dia sebagai pengurus mampu untuk membantu anggota serta menggali dan mengembangkan potensinya.
Sebagaimana dicontohkan oleh Rasullulah s.a.w. dalam memberdayakan ummatnya dari zaman jahiliah ke zaman yang terang benderang yang di Ridhoi Allah SWT.
Penutup.
Itulah ke empat peran yang dikemukan oleh Covey.
Covey mengaris bawahi bahwa ke empat peran tersebut harus dilalui secara berurutan.
Peran untuk menjadi panutan atau keteladanan merupakan peran sentral yang harus diikuti oleh peran-peran lainnya.

Sumber: http://id.shvoong.com/books/1878965-ciri-pemimpin-yang-akhlakul-karimah/#ixzz1Rtx2GGnr

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar